Pengajian Anak Muda Bandung di Masjid Al-Lathiif

Pengajian Anak Muda Bandung

Kalau sudah mendengar kata malam minggu, akan ada dua kelompok anak muda yang membahas perihal ini, pertama kelompok anak muda yang senang sekali ketika mengetahui malam minggu tiba, karena pada malam ini dia akan pergi bersama kekasihnya ke suatu tempat untuk makan, nonton atau hanya sekedar jalan-jalan malam. Kelompok kedua ada kelompok anak muda yang berstatus single alias jomblo, dia akan menganggap malam minggu sebagai malam yang lebih horor daripada malam jumat kliwon.

Beberapa hari lalu saya sempat mendapat ajakan dari salah seorang teman di kampus, ajakan untuk menghadiri suatu pengajian yang dimana para jamaahnya merupakan anak muda dari semua ‘jenis’, mulai dari yang sholeh sampai anak muda yang berpenampilan preman, semuanya ada dalam pengajian itu. Ketika pertama kali mendengarnya, saya langsung tertarik, karena setahu saya hanya sedikit dari anak muda yang mau meluangkan waktunya untuk mengikuti acara pengajian,  apalagi malam minggu, akan muncul sejuta pertimbangan.




Akhirnya malam minggu kemarin, 19 September 2015 saya mencoba hadir dalam pengajian tersebut untuk menjawab rasa penasaran saya. Berangkat memaju sepeda motor dan sampai lokasi sekitar pukul 17.15, baru ada beberapa motor saja yang terparkir kala itu, dengan beberapa orang berkumpul di beranda masjid. Saya sebagai orang yang baru pertama kali datang ke tempat itu langsung duduk mengikuti gaya mereka yang sudah dulu tiba di masjid ini. Waktu semakin sore mendekati waktu adzan maghrib, parkiran motorpun kini telah penuh dengan motor para jamaah, yang lain dan tidak bukan adalah para anak muda, parkiran dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat.

Ketika datang waktu maghrib, masjid ini penuh sesak dengan para anak muda yang ingin mengikuti pengajian, karena kajian akan dimulai setelah sholat maghrib. Akhirnya sholat maghrib selesai dan saatnya kami mendengarkan materi yang akan disampaikan oleh penceramah, malam tadi yang bertindak sebagai pemateri adalah Ust. Evie Efendi dengan topik yang dibawakan adalah mengingat kematian. Menurut saya bukan bahasan yang mudah apalagi jika harus disampaikan di depan anak muda seperti kami.

 

Ust. Evie memulai pembukaan kajian dengan susunan kata yang berima seperti puisi, kurang lebih seperti ini ‘mari kita panjatkan puji dan syukur, kehadirat Allah Yang Maha Ghofur,anu Maha Ngatur, anu Ngawur (membagi) ka hamba-Na anu Syukur’ dengan campuran bahasa sunda. Saya tidak hafal kalimat lengkapnya karena lumayan panjang. Setelah pengajian dimulai, Ust. Evie menyampaikan materi perlahan satu persatu kepada kami, pembahasannya mungkin agak berat tentang mengingat kematian, tapi dengan sendirinya otak saya dan alur pikiran saya bisa memahami apa pesan yang ingin disampaikan Ust. Evie, sekarang saya mengerti mengapa para remaja ini rela bermalam minggu di masjid dibanding pergi ke cafe.

Saya cukup banyak kenal dengan beberapa Ustadz, dari tipe A sampai  Z, saya mulai belajar dari pengajian malam ini, tidak banyak Ustadz atau pemateri mampu menyampaikan materi dengan penyampaian yang sesuai dengan bahasa dan gaya anak muda, walaupun saya yakin masalah keilmuan sudah tidak perlu diragukan lagi. Kebanyakan pembawaannya yang membosankan, sehingga ketika sedang membahas sebuah kajian, tiba-tiba materi yang disampaikan akan menjadi ‘tua dan angker’ sehingga tidak cocok untuk anak muda,  dari mulai gaya bahasa, gerak tubuh, ekspresi, istilah-istilah yang dipergunakan pun tidak cocok sama sekali dengan kehidupan anak muda. Makanya tidak heran kalau pengajian biasanya akan dipenuhi oleh ibu-ibu atau bapak-bapak, jarang sekali anak muda yang mau bergabung.

Kajian yang saya ikuti malam ini sangat berbeda, walaupun bahasan tentang mengingat kematian, si pemateri bisa memberikan contoh dengan sebuah kejadian yang sering dialami dikalangan anak muda. Begini contohnya, ketika Ust. Evie ingin menyampaikan ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa kematian tidak bisa diakhirkan dan tidak bisa dipercepat, maka Ust. Evie berkata seperti ini :

“Misalkan anak muda ditolak cintanya kemudian ia memutuskan untuk bunuh diri yang dianggapnya akan menyelesaikan masalah, mun can waktuna mah pasti riweuh, ditolak cintana terus gantung diri, eh ai si kaina teh bobok, nya rubuh atuh pasti. Ditolak cintana terus nyebur ka sumur, teu apal mah sumur teh loba belingan, nya jadi kacugak atuh, pincang we. Geus mah murag gara-gara gagal bunuh diri terus suku pincang gara-gara nyebur sumur, beuki weh eweuh nu daek

Maklum Ust. Evie adalah orang sunda, Kurang lebih seperti ini artinya :

“Misalkan anak muda yang ditolak cintanya kemudia dia memutuskan untuk bunuh diri yang dianggapnya akan menyelesaikan masalah, ya kalau belum waktunya pasti tidak akan berhasil, ditolak cintanya terus gantung diri, dia tidak tahu kalau kayunya sudah rapuh, akhirnya dia jatuh dan tidak jadi mati. Ditolak cintanya kemudian lompat kedalam sumur, dia tidak tahu bahwa sumur itu dangkal dan banyak serpihan kaca yang mengakibatkan kakinya luka dan pincang. Sudah jatuh dari atas kayu tadi kemudian kaki pincang gara-gara masuk ke sumur, tambah tidak akan ada yang suka kalau begitu.”

hqdefault

 

Tips berdakwah kepada anak muda

Bagi saya, sedikit orang yang mampu mengambil sudut pandang semacam ini, padahal yang ingin dijelaskannya adalah tentang kematian, tetapi Ustadz bisa memberikan contoh dengan analogi cinta ditolak, itu sangat tercerna sekali dan mudah dipahami. Ada beberapa kesimpulan yang saya dapat pada proses kajian kali ini, yaitu :

  • Sampaikan sesuatu itu sesuai dengan bahasa mereka. Sampaikan ayat apapun dengan bahasa anak muda, karena itu akan lebih mudah dicerna oleh jalan pikirannya. Tidak perlu baku, bahkan dalam pengajian semalam Ust. Evie memposisikan dirinya sebagai teman kami, dari mulai tutur kata hingga gesture-gesture yang dikeluarkannya. Bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa sunda, bahasa sundanya pun bukan bahasa sunda halus, melainkan bahasa sunda yang sering kami gunakan ketika berbicara dengan teman, tapi tetap dengan pemilihan kata yang pas.
  • Berikan analogi atau contoh yang sesuai dengan kondisi anak muda, malam tadi banyak analogi yang disampaikan oleh Ust. Evie, mulai dari cinta, motor vespa, lagu-lagu galau anak muda, dan beberapa slogan iklan yang erat kaitannya dengan anak muda
  • Sisipkan unsur komedi yang segar dalam setiap pembahasan, hampir semua bagian materi disisipi unsur komedi, sehingga banyak tawa yang tercipta ditengah-tengah kami dan percaya saja itu membuat kami betah, bahkan menurut saya komedi yang dikeluarkannya seperti punchline-punchline dalam kompetisi standup comedy dan semuanya pecah.

 

1,910 total views, 0 views today

Hosting Unlimited Indonesia

17 Comments

Leave a Comment