7 Mitos Copywriting yang Sebaiknya Tidak Anda Percayai

Copywriting adalah salah satu ilmu wajib yang dibutuhkan oleh setiap bisnis, karena dengan memahami copywriting, kegiatan promosi akan jauh lebih efektif, kenapa? karena dengan copywriting Anda bisa menjual produk/jasa hanya dengan kata-kata tanpa harus tatap muka.

Seiring berkembangnya ilmu copywriting, berkembang pula beberapa pendapat yang sebagian copywriter dunia menyebutnya sebagai mitos.

Jika Anda baru terjun ke dunia copywriting, maka ada 7 mitos copywriting yang sebaiknya tidak Anda percayai.

1. Copywriting itu simpel

Saya mengerti kenapa banyak orang yang menganggap copywriting itu pekerjaan simpel, karena mereka menganggap copywriting itu sekedar nulis atau hanya sekedar merangkai kata semata.

Padahal, untuk membuat copywriting yang powerful, dibutuhkan riset mendalam, terutama meriset hal-hal yang berkaitan dengan audiens, seperti apa masalah mereka, apa harapan mereka, bagaimana mereka berkomunikasi, dimana mereka berkumpul dan masih banyak lagi.

Jadi, kalau ada orang yang bilang “Copywriting itu simpel” jangan langsung percaya, kecuali Anda sudah trial and error, seiring bertambahnya jam terbang maka bisa jadi copywriting baru akan terasa mudah.

Tapi untuk pemula, copywriting gak sesimpel itu.

Namun harus Anda ingat, para master copywriting pun dulunya adalah seorang pemula, karena mereka rajin berlatih dan terus belajar, akhirnya mereka menguasai ilmu ini.

Pesannya, jangan putus asa, terus belajar dan terus latihan, suatu hari Anda akan menemukan polanya dan semua ini akan terasa jauh lebih mudah.

2. Copywriting itu hanya tentang pemilihan kata

Pernah denger pernyataan kayak gini?

“Copywriting kan cuma pinter-pinter milih kata aja, sehingga kedengeran lebih wah”

Itu anggapan yang SALAH!

Faktanya, tugas seorang copywriter adalah mengubah sesuatu yang kompleks menjadi pesan yang sederhana sehingga lebih mudah diterima oleh audiens, dan itu bukan pekerjaan sederhana.

Copy yang Anda liat sekarang merupakan penyederhanaan dari sesuatu yang kompleks di belakangnya, sehingga kadang kita menganggap “ah cuma gini doang”, padahal gak gitu.

Pemilihan kata-kata hanyalah bagian kecil dari rangkaian copywriting, masih banyak hal yang harus diperhatikan seperti flow, struktur dan faktor lainnya.

3. Copywriting tidak butuh waktu lama

Dari poin 1 saja sebetulnya Anda sudah bisa menyimpulkan bahwa copywriting yang powerful itu butuh waktu, gak simsalabim jadi, ada riset yang harus dilakukan, ada kata per kata yang harus disusun, ada proses editing supaya gak ada typo, ada revisi dan lain-lain.

Jadi kalau ada yang bilang copywriting itu cepet, ada dua kemungkinan, pertama orang itu gak ngerti copywriting, kedua copy nya ngasal gak pake riset.

4. Copywriter tidak perlu memahami marketing secara umum

Seperti yang telah saya sebutkan di awal, copywriting adalah salah satu komponen wajib dalam marketing atau promosi, itu artinya seorang copywriter setidaknya harus memahami ilmu marketing secara umum, tidak perlu detail yang penting tau inti-intinya aja.

Karena dengan memahami ilmu marketing, copywriter akan paham bagaimana identifikasi market, channel distribusi dan lain sebagainya. Cukup sulit kalau seorang copywriter sama sekali gak paham ilmu marketing, bisa-bisa copywritingnya gak menjual.

Minimal copywriter paham goal copywritingnya apa, nanti kalau sudah jadi, bakal di-publish dimana, paham karakteristik setiap channel seperti Instagram, Facebook, WhatsApp, dll, karena setiap channel pasti punya karakteristik yang beda jadi copywriting yang dipakai pun harusnya beda.

5. Lebih mudah menulis copywriting yang pendek dibanding yang panjang

Secara logika memang betul, menulis kalimat pendek cenderung lebih mudah dibanding menulis kalimat panjang, tapi ini tidak berlaku dalam copywriting, malah berlaku sebaliknya, menulis kata yang pendek butuh waktu lebih lama.

Dalam anatomi umum copywriting minimal ada 3 hal, headline, body copy dan call to action, pada kenyataannya menulis headline butuh waktu yang lebih lama ketimbang menulis body copy dan CTA.

Kok bisa?

Karena kita tidak punya banyak space untuk menulis headline, headline yang bagus itu pendek, simpel, clear, to the point, karena keterbatasan inilah seorang copywriter harus memutar otak agar menghasilkan satu kalimat yang memenuhi unsur-unsur tadi, walaupun pendek tapi pesannya tetap kena.

Lain halnya saat nulis body copy, kita lebih leluasa sehingga lebih bisa bereksplorasi dengan pemilihan diksi dan fitur benefit produk kita.

6. Lebih mudah mengedit ketimbang menulis dari awal

Lagi-lagi secara logika ini betul, tapi gak berlaku di copywriting, kadang waktu edit bisa sama dengan waktu menulis copy dari awal, bahkan bisa lebih lama, karena akan banyak pertimbangan yang muncul saat melakukan proses editing.

Dalam tahap ini butuh waktu yang lama karena harus memastikan setiap kata tertulis dengan betul tanpa ada kesalahan, karena kalau ada typo setitik bisa rusak kredibilitas sebelanga.

Proses editing juga butuh waktu lama karena harus dibaca berulang kali sampai flownya enak dan gak ada kata yang rancu.

7. Semua copywriter itu sama

Saya gak percaya kalau setiap copywriter itu sama, karena setiap orang punya keunikan masing-masing dalam dirinya, sehingga dalam menulis copy pun akan berbeda antara copywriter satu dan copywriter yang lain.

Tapi ingat, copywriting ilmu sebuah ilmu yang bisa dipelajari, asal kita rajin berlatih dan belajar ke referensi yang tepat, Insya Allah penjualan akan naik drastis.

Default image
Fajar Hidayat
Fajar Hidayat adalah seorang Blogger sekaligus Internet Marketer yang sudah berpengalaman lebih dari 7 tahun dan pendiri dari Sekolah Blogger

Leave a Reply

7 + four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.