Kopi Panggang Cafe : Mengolah Kopi Secara Tradisional

Saya kuliah di Institut yang mempunyai garis merah seni dan kebudayaan. Tempat ini mencetak seorang pegiat seni, mulai dari seniman, penari, pemusik tradisional hingga desainer dan aktor. Bidang yang saya geluti adalah seni rupa. Setiap hari saya bergaul dengan calon-calon seniman, saya mengamati bahwa ternyata dalam melakukan kegiatan berkeseninan, entah itu melukis ataupun membuat sesuatu, selalu ada secangkir kopi dan beberapa batang rokok disamping mereka.

Saya kurang begitu paham hubungan antara keduanya, antara berkesenian dan meminum kopi. Apakah mungkin jika tidak sambil meminum kopi, kegiatan berkesenian mereka akan terganggu atau bagaimana saya tidak paham. Atau mungkin hal itu diakibatkan karena memang dia adalah pecinta kopi? Karena bagi beberapa teman saya, meminum kopi seperti sudah menjadi sebuah keharusan.

Jujur saja, saya bukan orang yang mengerti banyak tentang kopi ataupun orang yang suka meminum kopi, walaupun sesekali saya meminumnya, kalau ada kanan dan kiri, mungkin saya tengah-tengahnya antara suka dan tidak.

Malam minggu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah coffee shop yang ada di Jl. Ir. H. Djuanda 391, Kopi Panggang. Lokasinya yang berada tepat disamping jalan, setelah memarkirkan motor di tempat yang tidak begitu luas, saya menaiki tangga untuk masuk ke ruang utama tempat ini. Ada beberapa lampion menggantung dan meja kursi yang ditata sedemikian rupa sehingga menghadirkan suasana yang nyaman dan tenang. Cocok sekali dijadikan tempat mengobrol atau sekedar kongkow-kongkow bersama teman-teman.

kopi panggang

Menurut saya, lokasi Kopi Panggang ini sangat pas, melihat daerah Dago terutama dago atas merupakan daerah berhawa dingin, sehingga kopi akan menjadi pilihan tepat untuk menghangatkan tubuh.

Saya memesan Coffee Latte, yang mungkin pas bagi saya yang termasuk golongan tengah-tengah antara suka dan tidak suka kopi. Harganya pun sangat bersahabat, tidak lebih dari 20 ribu untuk kita bisa menikmati secangkir kopi khas Kopi Panggang. FYI, semua kopi yang disajikan di tempat ini disajikan dengan cara manual, mulai dari proses roasting (sangrai) hingga menjadi sebuah kopi yang siap kita minum, tidak menggunakan alat-alat modern, karena Kopi Panggang ingin kembali menggunakan cara asli dalam proses pembuatannya.

Menurut Kang Irfan –Owner Kopi Panggang, pada dasarnya semua biji kopi itu sama, entah itu dari Brazil, Medan atau tempat lainnya, karena bukan itu yang menentukan rasa sebuah kopi, melainkan proses yang berbeda dalam penyajian yang membuat rasanya pun berbeda, jangan salah, setiap pembuat kopi akan mempunyai ciri khasnya tersendiri karena setiap orang memilikitaste yang berbeda dan memiliki keterampilan yang berbeda pula dalam mengolah biji kopi, kalau bukan ahlinya jangan coba-coba ya. Hehe

Ada yang ingin membeli biji kopinya saja? Di Kopi Panggang itu bisa diwujudkan, kita bisa membeli biji kopinya saja dengan takaran sesuai keinginan kita, misalkan kita ingin biji yang sekian gram, maka Kopi Panggang akan menyiapkannya untuk kita, kita bisa memesan custom.

Tidak hanya kopi yang tersedia di Kopi Panggang, kita bisa memesan cemilan dan makan berat seperti nasi goreng, nasi betutu pun ada, dan lagi-lagi harganya tidak lebih dari 23 ribu. Bagi kamu yang tidak terlalu suka kopi, bisa memesan minuman lainnya, karena banyak pilihan yang disediakan di Kopi Panggang. Jika anda mengaku pecinta kopi maka anda harus mampir ke tempat ini sesekali, dan rasakan perbedaanya.

kopi panggang

147 total views, 0 views today

16 Comments

Leave a Comment