Panduan Lengkap Belajar Covert Selling untuk Meningkatkan Penjualan

Ini adalah panduan lengkap belajar covert selling untuk meningkatkan penjualan Anda.

Dalam panduan ini, Anda akan belajar bagaimana cara jualan tanpa terlihat jualan, apapun bisnis Anda, Insya Allah bisa diaplikasikan.

Anda juga akan belajar:

  • Pengertian covert selling
  • Prinsip-prinsip dalam covert selling
  • Formula covert selling yang terbukti manjur
  • Contoh-contoh covert selling yang bisa Anda tiru

Tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai.

Pengertian Covert Selling


Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.

Sebelum Anda belajar bagaimana cara menggunakan teknik covert selling, ada baiknya Anda kenalan dulu dengan teknik ini.

Sehingga Anda tau kenapa covert selling ini penting untuk bisnis Anda.

Apa itu Covert Selling?

Covert selling adalah teknik jualan yang tersembunyi atau terselubung, teknik merancang kalimat promosi yang sama sekali tidak seperti promosi.

Jualan tapi tidak terlihat seperti jualan.

Menawarkan sebuah produk tapi kalimatnya tidak terlihat seperti kalimat penawaran.

Sehingga calon customer tidak merasa ‘dijuali’ dan dia dengan senang hati membeli produk Anda.

Kenapa Anda Harus Pakai Covert Selling?

Berikut adalah beberapa alasan kenapa Anda harus pakai teknik covert selling di bisnis Anda.

  1. Orang Tidak Suka Dijuali

Offering is disturbing.

Penawaran itu mengganggu.

Saat Anda sedang asyik jalan-jalan di mall, kemudian ada sales kartu kredit mendekati Anda, ngajak ngobrol yang ujung-ujungnya Anda ditawari untuk menggunakan produknya.

Pertanyaan saya, apakah Anda nyaman dengan situasi tersebut?

Tentu tidak kan?

Karena hakikatnya kita itu tidak suka dijuali.

Maka dari itu, Anda butuh mempelajari teknik covert selling, sehingga calon customer Anda tidak merasa ‘dijuali’ oleh iklan-iklan Anda.

Mereka suka rela membeli produk Anda.

Customer senang, Anda juga senang.

  1. Social Media Bukan Tempat Jualan

Mari kita lihat statistik berikut ini.

Sumber: StatCounter Global Stats – Social Media Market Share

Facebook, YouTube dan Instagram merupakan 3 media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai pebisnis online, mata kita tentu berbinar melihat data diatas.

Namun perlu Anda ingat, bahwa media sosial BUKAN TEMPAT JUALAN.

Dari namanya saja kita sudah tau, bahwa media sosial dibuat dengan tujuan agar orang-orang bisa bersosialisasi lewat media tersebut.

Bukan arena jual beli.

Kalau mau jualan, sudah ada tempatnya yaitu marketplace, bukan media sosial.

Jadi, apakah jualan di media sosial itu salah?

Tidak sama sekali.

Justru kita harus memanfaatkan peluang ini, dengan jumlah penggunanya yang banyak, media sosial harus kita manfaatkan untuk menarik sebanyak-banyaknya customer.

TAPI ADA CARANYA.

Tidak asal posting, tidak asal buat penawaran.

Di sinilah covert selling berperan, sehingga orang yang membaca postingan kita tidak merasa mereka sedang membaca kalimat penawaran.

Alhasil mereka tetap nyaman membaca iklan-iklan kita di media sosial.

Selanjutnya kita akan membahas prinsip-prinsip dalam covert selling, apa saja yang harus Anda lakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan.

Prinsip Penting dalam Covert Selling


Dalam covert selling, ada beberapa prinsip yang harus Anda pegang, karena prinsip inilah yang membuat iklan Anda menjadi covert.

Kalau Anda melewatkannya, maka iklan Anda akan terasa seperti iklan pada umumnya.

Dan kemungkinan ditolaknya lebih besar.

1. Penawaran, Ajakan, atau Perintah Membeli itu Haram

Dalam covert selling, haram hukumnya memberikan penawaran, ajakan atau perintah membeli secara frontal kepada calon customer.

Supaya lebih jelas, coba Anda bandingkan 2 contoh iklan berikut ini.

IKLAN BIASAIKLAN COVERT
Harga promo gamis Aisyah hanya Rp. 200.000, yang minat langsung aja kontak WA 0812 2076 xxx.Alhamdulillah dari pagi nomor WA 0812 2076 xxx bunyi terus, banyak yang nanyain promo gamis Aisyah.

Terasa bedanya?

Iklan yang covert adalah iklan yang tidak punya kesan menawarkan atau ajakan membeli.

Tapi orang tau kita jualan, mereka juga tau kita jualan apa, kalau mereka tertarik dengan produknya, mereka juga tau harus menghubungi kemana.

Tanpa harus ada kalimat perintah di dalamnya.

Jangan khawatir kalau sekarang Anda belum bisa membuatnya, karena untuk menguasai teknik ini, Anda perlu latihan.

Covert selling bukan bakat bawaan lahir, tapi ilmu yang bisa dipelajari.

Semua orang bisa menguasainya, termasuk Anda.

Practice make perfect!

2. Pakai Kalimat yang Lebih Manusiawi

Target market kita adalah manusia, maka dari itu semua kalimat dalam iklan yang kita buat harus lebih manusiawi.

Gunakan bahasa yang sederhana, langsung to the point.

Hindari pemborosan kata dan basa basi.

Untuk saat ini Anda bisa menghiraukan kaidah-kaidah B. Indonesia yang Anda pelajari di bangku sekolah dulu.

Buat setiap kalimat yang Anda tulis jadi mudah dipahami.

Karena salah satu goal covert selling adalah memunculkan rasa penasaran di benak calon konsumen.

Kalau kalimat iklannya berbelit-belit, maka konsumen tidak akan tertarik karena membacanya saja sudah malas.

Sehingga rasa penasaran mereka tidak akan muncul.

Maka dari itu penting sekali pemilihan kata dalam covert selling ini.

Tentu Anda harus riset, jika target market Anda anak muda, maka bahasa seperti apa yang mereka gunakan, sehingga Anda bisa menyusun kalimat sesuai bahasa mereka.

Kalau target Anda ibu-ibu, maka pelajari bagaimana cara berkomunikasi ibu-ibu, sehingga Anda bisa memilih kalimat yang tepat di iklan Anda.

3. Fokus pada Cara Penulisan Kalimat Iklan

Ada prinsip populer dalam covert selling, yaitu It’s not what you said, it’s how you said it!.

Bukan tentang apa yang Anda katakan, tapi bagaimana cara Anda mengatakannya.

Bukan tentang pesan apa yang ingin Anda sampaikan, tapi bagaimana cara Anda menyampaikan pesan tersebut.

Selain memahami target audiens, covert selling juga berfokus pada cara penulisan kalimatnya.

Coba Anda perhatikan dua contoh berikut ini:

CONTOH ACONTOH B
Kemarin waktu meeting di kantor, salah seorang teman nanya baju batik yang saya pakai, dia bilang motifnya bagus, warnanya juga keren.

Ujung-ujungnya dia nanya beli dimana, yaudah saya bilang beli di Toko Batik Nusantara, kontak langsung aja CS-nya 0812 2076 xxx (fast response)
Kemarin waktu meeting di kantor, salah seorang teman nanya baju batik yang saya pakai, dia bilang motifnya bagus, warnanya juga keren.

Ujung-ujungnya dia nanya beli dimana, yaudah saya bilang beli di Toko Batik Nusantara dan saya kasih nomor CS-nya 0812 2076 xxx, semoga dia bisa cocok sama batik di sana.

Dua contoh di atas mempunyai pesan yang sama, tapi cara penyampaiannya berbeda.

Menurut Anda, dari dua contoh di atas, mana yang lebih covert?

Umumnya pasti pilih yang B, karena tidak ada ajakan atau perintah untuk melakukan apapun.

Dan kita lebih nyaman dengan kalimat yang B, karena terasa seperti cerita dan tidak ada perintah untuk kontak ke CS nya, hanya memberitahu saja.

Tapi kita tau, kalau butuh batik harus kontak ke mana.

4. Mainkan Perasaan Calon Customer

Ada 3 fase yang dilewati setiap orang hingga akhirnya memutuskan untuk membeli sesuatu.

3 fase tersebut adalah Think, Feel, Do.

Konsep ini ditemukan oleh Robert J Lavidge dan Gary A Steiner pada tahun 1961 yang mereka sebut sebagai The Hierarchy of Effect Model.

the hierarcgy of effect model

Agar bisa memainkan perasaan calon customer, kita harus fokus pada fase think.

Kenapa?

Karena apapun yang dipikirkan oleh seseorang biasanya akan berpengaruh pada apa yang dirasakannya saat itu.

Kalau Anda sedang memikirkan masa-masa SMA dulu, maka seketika berbagai perasaan muncul di benak Anda, ada perasaan lucu, senang, sedih, rindu, dll.

Berdasarkan 3 fase di atas, mempengaruhi perasaan calon customer bisa kita lakukan dengan cara:

  1. Awareness: Membuat iklan yang bisa memunculkan awareness terutama bagi mereka yang belum mengetahui keberadaan bisnis kita. Caranya banyak, kalau organik Anda bisa menggunakan blogpost, media sosial, dan platform lainnya.
  2. Knowledge: Membuat iklan/konten yang bisa mengedukasi calon customer terkait produk kita. Caranya, Anda bisa edukasi lewat email series, konten media sosial, grup khusus, dan masih banyak lagi.

Sehingga kalau kita sering melakukan keduanya, awareness dan knowledge akan terbangun di benak calon customer.

Jika perasaannya sudah berubah, maka selanjutnya kita bisa arahkan mereka ke tahap yang berikutnya, yaitu Feel kemudian Do.

Default image
Fajar Hidayat
Fajar Hidayat adalah seorang Blogger sekaligus Internet Marketer yang sudah berpengalaman lebih dari 7 tahun dan pendiri dari Sekolah Blogger

Leave a Reply

11 − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.