6 Faktor Penghambat Lulus Kuliah

Mahasiswa baru atau yang sering disebut MABA, pada bulan ini merupakan waktu bersejarah bagi mereka, karena bulan-bulan ini adalah bulan pertama mereka merasakan dunia perkuliahan, yang dulunya sekolah memakai seragam putih abu, kini sudah dibebaskan asal sopan dan memakai sepatu. Sebelum itu, mereka tentu sudah mendapatkan pendidikan tentang pengenalan kampus, entah apapun namanya.

lulus kuliah

Tulisan ini merupakan pesan bagi para mahasiswa baru yang akan melaksanakan kegiatan perkuliahan, pesan yang ditulis oleh mahasiswa yang baru lulus beberapa bulan lalu dan sedang menunggu wisuda.

Sebagai orang baru, tentu hari-hari pertama akan digunakan untuk proses adaptasi, bisa dengan berkenalan dengan teman-teman baru dan beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang akan dia  jalani. Sebagian akan ada yang merasa kaget, karena belum terbiasa, kaget dengan jadwal kuliah yang mencle-mencle (lompat-lompat), teman yang baru, atau kaget dengan cara mengajar dosen. Nikmati saja, nanti juga akan terbiasa.

Ada beberapa faktor yang bisa membuat kuliah terhambat, tentu semua orang tidak ingin mengalaminya, semua ingin lulus tepat waktu dengan predikat terbaik. 6 faktor penghambat lulus kuliah ini sebisa mungkin harus dihindari :

Sibuk Organisasi

Dalam dunia perkuliahan, akan banyak sekali organisasi yang bisa diikuti, mulai dari HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) sampai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Bentuknya bermacam-macam, mulai yang religius sampai yang suka manjat-manjat tebing. Mahasiswa baru biasanya memiliki rasa ingin mencoba, sehingga dia memutuskan bergabung dengan beberapa organisasi sekaligus, yang bahaya adalah tidak sedikit mahasiswa yang ‘keasyikan’ berorganisasi sampai dia lupa tujuannya mendaftar di kampus tersebut.

Kalau ada event yang diadakan himpunannya, dia semangat sekali, kadang tidak pulang pun dia rela, menginap di sekretariat himpunannya untuk menyiapkan acara tersebut atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol. Berbeda jika ada jadwal kuliah, dia akan sering bolos dari proses pembelajaran. Akibatnya, banyak mata kuliah yang dia harus ambil tahun berikutnya gara-gara tidak lulus, dan itu akan memperlambat proses kelulusannya.

Sebetulnya boleh saja berorganisasi, asal tahu waktu. Bisa membagi waktu antara waktu organisasi dan waktu kuliah, dan harus ingat bahwa tujuan dia mendaftar dikampus itu untuk kuliah, bukan untuk ikut berorganisasi, berorganisasi bisa dilakukan setelah jam-jam kuliah dan tidak mengorbankan jam kuliah.

Sibuk Pacaran

Pacaran, dikalangan anak muda khususnya mahasiswa, tidak sedikit yang terlibat cinta lokasi dengan teman sekampus atau bahkan satu kelasnya. Terlepas dari boleh atau tidaknya berpacaran, saya menganjurkan lagi-lagi harus pintar membagi waktu. Pacaran yang kurang baik adalah ketika masalah yang terjadi dalam hubungan itu terbawa kepada kehidupan sehari-hari atau kita sering sebut dengan BaPer (bawa perasaan), itu akan berpengaruh kepada proses perkuliahan, dikelas yang seharusnya memperhatikan dosen, dia malah memikirkan masalah yang sedang terjadi dengan pasangannya, gagal fokus deh.

Tergoda Game Online

Sudah banyak tulisan yang membahas pengaruh buruk game online, selain kecanduan, game online juga akan membuat pelakunya lupa waktu. Tugas kuliah jadi terbengkalai, waktu kuliah jadi terbuang gara-gara keasyikan main game online. Kesehatan pun berkurang, karena kalau sudah di depan komputer, tidak mau beranjak lagi, sampai kadang lupa makan yang mengakibatkan dia sakit dan tidak bisa datang ke kampus untuk kuliah.

Mulai Kenal Duit

Ini terjadi biasanya pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi atau membuat tugas akhir. Karena jadwal kuliah yang agak lengang, dia memutuskan untuk melamar kerja ke suatu perusahaan dan diterima, kemudian dia bekerja dan mendapatkan gaji. Celakanya, tidak sedikit mahasiswa ketika berada di situasi seperti ini memutuskan untuk fokus bekerja karena tergiur dengan gaji/uang yang dihasilkan, sehingga skripsinya terbengkalai dan lulusnya pun mundur.

Menikah dan Punya Anak

Entah apa alasannya, yang jelas keadaan seperti ini sudah banyak contohnya. Padalah masih kuliah, tetapi memutuskan untuk menikah, memang tidak ada larangan untuk melakukan hal itu, selagi bisa membagi waktu dan menunda kehamilan. Repotnya, ketika memutuskan menikah, dan tiba-tiba mempunyai anak, otomatis kegiatan perkuliahan harus ditinggalkan sejenak untuk fokus mengurus sang buah hati.

Dosen yang Mempersulit

Pernah dengar dosen killer? Kali ini dosen yang mempersulit skripsi atau tugas akhir, ada saja masalahnya mengakibatkan mahasiswa menjadi malas karena selalu salah, malas bimbingan dan malas bertemu dengan dosen tersebut, alhasil skripsinya atau tugas akhirnya macet.

Intinya, semua itu sebetulnya bisa dilakukan secara bersamaan. Hal yang harus diperhatikan adalah kelihaian kita membagi waktu untuk melakukan semua kegiatan tersebut. Bukankah Tuhan telah bersumbah dengan menggunakan kata waktu? Gunakan waktu sebaik mungkin ya teman-temen. Semoga yang masih macet skripsinya bisa cepat tuntas.

326 total views, 0 views today

No Comments

Leave a Comment